Kamis, 28 Mei 2009

ekologi bentang lahan

Ekologi

Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel, seorang pakar biologi jerman pada tahun 1869, ekologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi, khususnya mempelajari keterkaitan dan jaringan dari segenap unsur kehidupan, di dalam ekologi, sistem kehidupan yang terkait merupakan suatu sistem ekologi yang utuh dan menyeluruh, yang didalamnya terdapat saling ketergantungan antara setiap unsur dengan dan faktor kehidupan. Salah satu unsur ataupun salah satu faktor tidak dapat berdiri sendiri. Istilah ekologi ditinjau secara terminologis berasal dari dua kata dalam bahasa yunani, yakni oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu. Jika diberi makna secara harfiah, ekologi berarti ilmu tentang mahluk hidup dalam rumahnya, atau dapat diartikan sebagai ilmu rumah tangga mahluk hidup
Secara definitif ekologi berarti ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik mahluk hidup dengan lingkungan hidupnya. Studi ekologi meliputi berbagai bidang, seperti

  • Studi ekologi sosial, sebagai suatu studi terhadap relasi sosial yang berada di tempat tertentu dan dalam waktu tertentu dan yang terjadinya oleh tenaga-tenaga lingkungan yang bersifat selektif dan distributif
  • Studi ekologi manusia sebagai suatu studi tentang inteaksi antara aktivitas manusia dan kondisi alamStudi ekologi fisis sebagai suatu studi tentang lingkungan hidup dan sumber daya alamnya
  • Studi ekologi biologis sebagai suatu studi tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup. Terutama hewan dan tumbuh-tumbuhan, dan lingkungannya

Batasan ekologi masih bersifat umum, pengertian mahluk hidup didalamnya termasuk manusia. Sering kali terdapat pendapat beberapa pakar adanya persamaan kajian ekologi dengan ekonomi, yakni pada aspek rumah tangga mahluk hidup. Namun pada dasarnya terdapat perbedaan yang terletak pada

a. Arah kajian : pada ekologi mempertanyakan bagaimana rumah tangga mahluk hidup, sedangkan pada ekonomi menekankan pada pertanyaan bagaimana pengelolaan rumah tangga

b. Jenis rumah tangga mahluk hidup, dalam ekologi mencangkup semua jenis mahluk hidupm sedangkan dalam ekonomi terbatas pada mahluk hidup manausia.

Ekologi menurut habitat

· Bahari/kelatutan

  • Perairan tawar
  • Darat/teresterial
  • Ekologi estuaria (muara sungai)

· Padang rumput

  • Ekologi (taksonomi)

· Ekologi tumbuhan

· Ekologi hewan, binatang, serangga dan burung

· Ekologi mikrobia/jasad remik

Asas ekologi

· Dimanapun suatu orgaisme ada tidak aka dapat hidup mandiri, untuk hidupnya suatu organisme memerlukan organisme lain/lingkungannya

· Lingkungan diperlukan organisme untuk makan, lindungan, pertumbuhan, kembang biak, dll

Dari asas ekologi diatas maka apabila terjadinya perubahan terhadap lingkungan itu maka ekosistemnya ikut berubah.

Ekosistem adalah : hubungan timbal balik yang kompleks antara organisme dan lingkungannya, baik unsur tidak hidup maupun unsur hidup (ekologi), menurut UU tentang pengelolaan lingkungan hidup ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup

Ada dua bentuk ekosistem yang penting. Yang pertama adalah ekosistem alamiah (natural ecosystem) dan yang kedua adalah ekosistem buatan (artifical ecosystem) hasil kerja manusia terhadap ekosistemnya. Didalam ekosistem alamiah akan terdapat heterogenitas yang tinggi dari organisme hidup disana sehinga mampu mempertahankan proses kehidupan didalamnya dengan sendirinya. Sedang ekosistem buatan akan mempunyai ciri kurang keheterogenitasnya sehingga bersifat labil dan untuk membuat ekosistem tersebut tetap stabil, perlu diberikan bantuan dari luar yang juga harus diusahakan oleh manusianya, agar berbentuk suatu usaha maintenance atau perawatan terhadap ekosistem yang dibuat itu.

Pembagian ekologi

1. Autekologi : ekologi yang mempelajari suatu jenis (spesies) organisme yang berinteraksi dengan lingkungannya biasanya tekanannya pada aspek siklus hidup, adaptasi, sifat parasites, dll

2. Sinekologi : ekologi yang mengkaji berbagi kelompok organisme sebagai suatu kesatuan yang saling berinteraksi dalam sutau daerah tertentu, ekologi jenis, ekologi populasi

Konsep dasar ekologi minimal ada 4 : keanekaragaman/diversity, produktivitas, stabilitas, keberlanjutan/sustainable dimana batas dari ekologi adalah habitat dan batas ekosistem adalah landscape/bentang lahan

Ideologi ekologi : penjabaran falsafah ekologi untuk menumbuhkan kesadaran ekologi sehingga melahirkan tindakan ekologi, tindakan ekologi dalam kehidupan sehari-hari akan menciptakan kesadaran diri sendiri (internally driven) berdasrkan kearifan lokal

Dari penjelasan diatas diketahui bahwa ekologi terdiri dari

1. Spesies & populasi

2. Habitat & komunitas (kumpulan populasi)

3. Ekosistem (gabungan banyak komunitas)

4. Frekuensi (kerap/tidak kerapnya)

5. Nilai penting (hewan/tumbuhan disuatu tempat yang menjadi maskot)

6. Keanekaragaman (jumlah spesies di suatu tempat)

7. Kemelimpahan (jumlah individu per jenis)

8. Distribusi (penyebaran)

Lingkungan : keadaan di sekitar kita, atau kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup yang lain.

Lingkungan hidup disusun oleh 3 komponen A, B, C

1. A-Abiotic environment atau lingkungan fisik terdiri dari unsur-unsur air, udara, lahan, dan energi serta bahan mineral terkandung di dalamnya

2. B-Biotic environment atau lingkungan hayati terdiri dari unsur-unsur hewan, tumbuhan dan margasatwa kainnya serta bahan baku hayati industri

3. C-Cultural environment atau lingkungan kultural SOSEKBUD terdiri dari unsur-unsur sistem-sistem sosial, ekonomi, dan budaya serta kesejahteraan

Dimana, Ketiga komponen lingkungan hidup saling berkaitan

Masalah lingkungan :

1. Natural environment hazard : geophysical, climatic & meteorologic, geologic & geomorphologic, biologic floral & faunal

Geophysical aspects :

a. Klimatologi dan meteorologi : banjir, kekeringan, asap/awan, badai/cyclone, kebakaran,

b. Geologi & geomorfologi : debris, gempa bumi, erosi, sedimentasi, tanah longsor, tsunami, letusan gunung api.

Biologi aspect :

a. Floral : penyakit jamur, toksik/keracunan, penyakit tanaman

b. Faunal : bakteri & viral, gigitan binatang, penyakit binatang

c. Human aspect

2. Human environment disturbances : illegal logging/tambang liar, efek rumah kaca, penembusan lapisan ozon, hujan asam, dll.

Ekologi bentang lahan

Ekologi bentang lahan pertama kali diperkenalkan oleh geograf dari jerman bernama carl troll yang menggunakan istilah geo-ecology, dia memandang ekolog bentanglahan sebagai perkawinan antara geografi dengan biologi (ecology). Ekologi bentanglahan merupakan disiplin ilmu yang meletakkan dasar geosfer sebagai kunci dari lingkungan komunitas vegetasi, hewan dab manusia. Ada beberapa pendekatan yaitu

1. Phytocentric approach yang menekankan pada hubunga timbal balik antara bentanglahan dengen vegetasi

2. Zoocentric approach yang menekankan pada hubungan timbal balik antara komunitas hewan dengan bentanglahan

3. Antropocentric approach yang menekankan pada responsibility dan hubungan antara manusia dengan bentanglahan,

Pendekatan phytocentric dengan zoocentric disebut sebagai pendekatan biosentrik (biocentric approach)

Kamis, 26 Februari 2009

Gigi - Bumi Meringis


GIGI - Bumi Meringis


Suara tangis yang merintih


Tanda bumi sedang menagis


Langit merah di atas sana


Kesaksian alam semeesta


Jalan pikiran manusia


selalu ada perbedaan


Kekuasaan, kenistaan


Yang akan menjadi malapetaka


Dan lihatlah wajah mereka


Bagaikan rasa yang terbuang


Hampir semua tak percaya


Bagaikan rasa yang terbuang


Hampir semua tak percaya


Keadaan yang semestinya


Hingga hilang ditelan gelap


Dan matahari pun terlelap


Reff:


Hilang


Hampa


Bias melayang


Hancur


Musnah


Alam pun murka



Lirik lagu Gigi - Bumi Meringis ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 Gigi - Bumi Meringis.

Senin, 23 Februari 2009

PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING

PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING)

1. Pengertian Penginderaan Jauh (Remote Sensing) :

Berikut adalah pengertian Pengindraan jauh menurut beberapa ahli

· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna (Curran, 1985).

· Penginderaan Jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1998)

· Everett Dan Simonett (1976) : Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu, karena terdapat suatu sistimatika tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi, ilmu ini harus dikoordinasi dengan beberapa pakar ilmu lain seperti ilmu geologi, tanah, perkotaan dan lain sebagainya.

· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas jauh dari objek yang diindera (Colwell, 1984). Foto udara, citra satelit, dan citra radar adalah beberapa bentuk penginderaan jauh.

· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu ilmu untuk mendapatkan informasi mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarak jauh (Campbell, 1987). Hal ini biasanya berhubungan dengan pengukuran pantulan atau pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu objek.

· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu, Ilmu teknologi dan seni dalam memperoleh informasi mengenai objek atau fenomena di (dekat) permukaan bumi melalui media perekam objek atau fenomena yang memanfaatkan energi yang berasal dari gelombang elektromagnetik dan mewujudkan hasil perekaman tersebut dalam bentuk citra. (penjelasan pribadi)

2. Konsep Dasar Penginderaan Jauh (Remote Sensing)

Konsep dasar remote sensing terdiri atas beberapa komponen yang meliputi sumber tenaga, atmosfer, interaksi tenaga dengan objek di permukaan bumi, sensor, sistem pengolahan data, dan berbagai penggunaan data

3. Manfaat Penginderaan Jauh terhadap berbagai disiplin ilmu :

A. BIDANG KEHUTANAN

Bidang kehutanan berkenaan dengan pengelolaan hutan untuk kayu termasuk perencanaan pengambilan hasil kayu, pemantauan penebangan dan penghutanan kembali, pengelolaan dan pencacahan margasatwa, inventarisasi dan pemantauan sumber daya hutan, rekreasi, dan pengawasan kebakaran. Kondisi fisik hutan sangat rentan terhadap bahaya kebakaran maka penggunaan citra inframerah akan sangat membantu dalam penyediaan data dan informasi dalam rangka monitoring perubahan temperatur secara kontinu dengan aspek geografis yang cukup memadai sehingga implementasi di lapangan dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat.

B. BIDANG PENGGUNAAN LAHAN

Inventarisasi penggunaan lahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah pemetaan lahan yang dilakukan oleh aktivitas manusia sesuai dengan potensi ataupun daya dukungnya. Penggunaan lahan yang sesuai memperoleh hasil yang baik, tetapi lambat laun hasil yang diperoleh akan menurun sejalan dengan menurunnya potensi dan daya dukung lahan tersebut. Integrasi teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu bentuk yang potensial dalam penyusunan arahan fungsi penggunaan lahan. Dasar penggunaan lahan dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan penelitian, perencanaan, dan pengembangan wilayah. Contohnya penggunaan lahan untuk usaha pertanian atau budidaya permukiman.

C. BIDANG PEMBUATAN PETA

Peta citra merupakan citra yang telah bereferensi geografis sehingga dapat dianggap sebagai peta. Informasi spasial yang disajikan dalam peta citra merupakan data raster yang bersumber dari hasil perekaman citra satelit sumber alam secara kontinu. Peta citra memberikan semua informasi yang terekam pada bumi tanpa adanya generalisasi.

Peranan peta citra (space map) dimasa mendatang akan menjadi penting sebagai upaya untuk mempercepat ketersediaan dan penentuan kebutuhan peta dasar yang memang belum dapat meliput seluruh wilayah nasional pada skala global dengan informasi terbaru (up to date). Peta citra mempunyai keunggulan informasi terhadap peta biasa. Hal ini disebabkan karena citra merupakan gambaran nyata di permukaan bumi, sedangkan peta biasa dibuat berdasarkan generalisasi dan seleksi bentang alam ataupun buatan manusia. Contohnya peta dasar dan peta tanah.

D. BIDANG METEOROLOGI (METEOSAT, TIROS, DAN NOAA)

Manfaat penginderaan jauh di bidang meteorologi adalah sebagai berikut.

a. Mengamati iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat perawanan dan kandungan air dalam udara.

b. Membantu analisis cuaca dan peramalan/prediksi dengan cara menentukan daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah serta daerah hujan badai dan siklon

mMengamati sistem/pola angin permukaan.

d. Melakukan pemodelan meteorologi dan set data klimatologi.

E. BIDANG OSEANOGRAFI (SEASAT)

Manfaat penginderaan jauh di bidang oseanografi (kelautan) adalah sebagai berikut.

a. Mengamati sifat fisis laut, seperti suhu permukaan, arus permukaan, dan salinitas sinar tampak (0-200 m).

b. Mengamati pasang surut dan gelombang laut (tinggi, arah, dan frekwensi).

c. Mencari lokasi upwelling, singking dan distribusi suhu permukaan.

d. Melakukan studi perubahan pantai, erosi, dan sedimentasi (LANDSAT dan SPOT).

F. BIDANG HIDROLOGI (LANDSAT/ERS, SPOT)

Manfaat penginderaan jauh di bidang hidrologi adalah sebagai berikut.

a. Pemantauan daerah aliran sungai dan konservasi sungai.

b. Pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai.

c. Pemantauan luas daerah intensitas banjir.

G. BIDANG GEOFISIKA BUMI PADAT, GEOLOGI, GEODESI, DAN LINGKUNGAN (LANDSAT, GEOSAT)

Manfaat penginderaan jauh di bidang geofisika, geologi, dan geodesi adalah sebagai berikut.

a. Melakukan pemetaan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat terbang dan menggunakan aplikasi GIS.

b. Menentukan struktur geologi dan macam batuan.

c. Melakukan pemantauan daerah bencana (kebakaran), pemantauan aktivitas gunung berapi, dan pemantauan persebaran debu vulkanik

d. Melakukan pemantauan distribusi sumber daya alam, seperti hutan (lokasi, macam, kepadatan, dan perusakan), bahan tambang (uranium, emas, minyak bumi, dan batu bara).

e. Melakukan pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut.

f. Melakukan pemantauan pencemaran udara dan pencemaran laut. (Dra. Sri Hartati Soenarmo MSP, 1993)

Sumber Pustaka

Purwadhi, H,S, Interpretasi Citra Digital, 2001, Grasindo. Jakarta.

Lillesand, Kiefer, Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra, Gajah Mada

University Press, 1998

Selasa, 13 Januari 2009

Pengaruh Pemanasan Iklim Global terhadap Populasi Beruang Kutub

Abstract

Beruang Kutub atau dalam nama ilmiahnya Ursus maritimus adalah mamalia besar dalam aturan marga, famili Ursidae. Beruang kutub termasuk spesies circumpolar yang terdapat di dan sekitar Arktik dan adalah hewan mamalia daratan terbesar. Beruang kutub sangat bergantung pada laut es sebagai habitatnya. Es digunakan oleh beruang kutub sebagai tempat berburu dan memangsa anjing laut, sebagai habitat untuk mencari pasangan dan mendapatkan keturunan, sebagai sarana mencapai wilayah sarang, dan sebagai tempat untuk melakukan pergerakan jarak jauh. Pemanasan global menyebabkan perubahan iklim, akibatnya berpengaruh terhadap kondisi es di kutub. Es akan cepat mencair dan mempengaruhi populasi anjing laut yang menjadi mangsa beruang kutub. Populasi anjing laut mengalami penurunan dampaknya populasi beruang kutub juga mengalami penurunan.

Kata kunci : Beruang kutub, anjing laut, pemanasan iklim global, laut es, populasi

Pendahuluan

Semakin meningkatnya pemanasan global yang diikuti dengan terjadinya perubahan iklim telah berdampak terhadap berbagai populasi dari mahluk hidup di bumi khususnya binatang mamalia yang hidup ditempat tertentu termasuk beruang kutub. Beruang kutub termasuk keluarga Ursidae seperti beruang lain. Spesiesnya dikenal dengan nama ilmiah Ursus maritimus. Ia mampu hidup sampai usia 30 tahun di alam liar, Beruang kutub adalah mamalia berbulu bening penghuni asli Kutub Utara. Beruang-beruang ini menyukai wilayah dekat perairan es yang bisa ditemukan di wilayah utara Kanada, Greenland dan Rusia, termasuk pulau-pulau di Samudera Arktik. Ia juga bisa ditemukan di perairan Utara Alaska. Spesies beruang kutub (Ursus maritimus) saat ini telah digolongkan sebagai hewan yang sangat rentan terhadap perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global dan secara internasional telah masuk Daftar Merah Hewan Terancam. (climate change, polar bears and international law, Nigel Bangkes), pengaruh pemanasan global telah membuat es di kutub terus berkurang yang tentunya berpengaruh terhadap populasi beruang kutub.

Lapisan es di laut Kutub Utara tampaknya telah mencapai tingkat paling rendah sepanjang tahun 2008 dan tingkat paling rendah kedua yang tercatat sejak kelahiran era satelit. Demikian pengamatan US National Snow and Ice Data Center[1] Tahun-tahun ini ilmuwan telah mengemukakan bahwa peningkatan konsentrasi gas rumahkaca di atmosfer akan menyebabkan iklim permukaan bumi menjadi panas. Pemanasan iklim dapat mempengaruhi tutupan es di Lautan Arctic. Konsekuensi pemanasan iklim ini yaitu diperkirakan dalam 100 tahun ke depan puncak es Arctic akan mencair seluruhnya, sehingga jelas bahwa semakin panas iklim maka es di laut arctic semakin berkurang (Stirling et al. 1993).

Perubahan iklim juga mempengaruhi dinamika ekosistem sepanjang Arctic. Luas, konsentrasi, dan ketebalan es telah menurun sejak tahun 1970an dan perubahan ini dikaitkan dengan pergeseran iklim dalam skala besar, lautan global, dan sirkulasi atmosfer. Perubahan iklim akan mempengaruhi kondisi es, distribusi anjing laut secara berbeda di wilayah Arctic yang berbeda, sehingga respon individu populasi beruang kutub (Ursus maritimus) terhadap perubahan iklim akan berbeda pula (Parks et al. 2006).
Habitat Beruang kutub

Beruang kutub berkembang untuk mengeksploitasi niche es laut dan mampu bertahan pada habitat yang labil ini. Mereka tegantung pada es laut sebagai tempat memangsa anjing laut dan sebagai habitat untuk mencari pasangan dan mendapatkan keturunan. Es laut juga berfungsi sebagai sarana mencapai wilayah sarang dan sarana untuk melakukan pergerakan jarak jauh. Ketersediaan es laut sangatlah kritis terhadap beruang kutub karena menyediakan tempat untuk berburu anjing laut sebagai mangsanya. Anjing laut (Phoca hispida) juga memerlukan es sebagai tempat untuk melahirkan dan membesarkan anaknya. Tutupan es mempunyai efek langsung terhadap distribusi dan kemelimpahan beruang kutub dan anjing laut. Beruang kutub berada pada tingkat paling atas rantai makanan marin arctic. Es merupakan komponen penting bagi lingkungan beruang kutub. Jika terjadi pemanasan iklim, maka dapat diperkirakan bahwa efek awal terukur di dekat batas paling selatan kawasan beruang kutub (Stirling et al. 1993).


Pola Perpindahan Beruang kutub

Pergerakan binatang ini dipengaruhi oleh distribusi dan sumber daya seperti makanan atau habitat pemeliharaan keturunannya, dan dengan struktur fisik bentanglahan. Beruang kutub adalah karnivora non-teritorial yang berjalan sepanjang ribuan kilometer untuk berburu mangsanya yaitu anjing laut (Pusa hispida, Erignathus barbatus). Jarak tahunan yang ditempuh oleh beruang adalah 2080 ± 170 km. Jarak terpendek ditempuh oleh betina soliter yaitu 547 km dan jarak terpanjang ditempuh oleh betina dengan anaknya yaitu 4935 km (Parks et al. 2006).

Saat awal pembekuan es, beruang kutub memiliki rerata pergerakan yang tinggi setiap jamnya, jaring-jaring yang tinggi, home range kecil. Kecapatan penyimpangan es di Hudson Bay tertinggi saat awal pembekuan es dan awal musim dingin yaitu sebesar 0,4 – 0,5 km/jam ke arah tenggara, jadi kemungkinan beruang kutub bergerak lebih cepat dari arah utara yang jelas tampak dari pengamatan lintasannya. Saat musim dingin, beruang bergerak dengan lambat secara acak, meliputi jarak jaring-jaring yang oendek, dan mempunyai home range yang lebih tinggi dibandingkan awal pembekuan es. Berburu menjadi aktivitas utama setelah Bulan Desember. Total jarak perpindahan dan ukuran home range dipengaruhi oleh pembekuan dan pemecahan es (Parks et al.2006).

Pola pergerakan beruang beruang kutub bervariasi dalam dan antar populasi. Variasi dalam populasi dikarenakan oleh kebutuhan energi dari beruang secara individu dan karena kondisi es. Contohnya betina yang didampingi oleh keturunannya memiliki kebutuhan energi yang lebih besar dibandingkan dengan yang tidak. Perubahan iklim pada kondisi es menciptakan habitat yang berbeda tempat beruang harus berpindah dan berburu. Rata-rata pergerakan dan habitat mereka sering berubah seiring dengan perubahan musim/iklim. Perbedaan pergerakan beruang dapat juga dipengaruhi oleh perbedaan produktivitas laut suatu wilayah, distribusi anjing laut, dan tutupan es. Distribusi anjing laut tergantung pada produktivitas lokal. Struktur dan gerak es laut ditentukan oleh pola sirkulasi udara dan air wilayah, fluktuasi temperatur, bathymetry (Parks et al. 2006).

Beruang kutub (Ursus maritimus) betina mendiami es laut yang dinamik menunjukkan pola pergerakan yang tergantung pada musim tertentu. Beruang hanya menunjukkan pergerakan signifikan ketika meninggalkan daratan menuju ke es, dan secara keseluruhan, kelas reproduktif merupakan efek yang kecil untuk arah pergerakan. Beruang kutub yang hidup di dua area yang berbeda memiliki seleksi habitat yang sama, namun berbeda pada pergerakan dan sejarah hidupnya. Contohya beruang kutub yang hidup di kawasan Baffin Bay (76% terdiri dari es laut) menunjukkan pola-pola pergerakan yang teratur dan ukuran range yang lebih luas. Beruang kutub yang hidup di Arctic Archipelago (massa daratan 44%) memiiki ukuran range yang lebih kecil dengan pola-pola pergerakan yang tidak teratur (Ferguson et al. 2000; Mauritzen et.al. 2001; Parks et al. 2006).
Populasi Beruang kutub

Populasi beruang kutub di Hudson Bay bagian barat hidup berdekatan dengan batas beruang kutub bagian utara, karenanya diperkirakan akan lebih cepat terpengaruh oleh perubahan iklim dibandingkan dengan populasi lain. Setiap musim panas, seluruh es laut yang menutupi pantai mencair dan beruang kutub terpaksa ke darat selama beberapa bulan tanpa akses makanan. Ketika es terbentuk di Bulan Oktober dan November, beruang bergerak kembali ke es untuk berburu, dengan pengecualian bagi betina hamil dimana menggali dan masuk ke dalam sarang. Home range beruang kutub berkurang sampai 55% dari 149.576 km2 tahun 1992 menjadi 68.321 km2 tahun 1998 dan positif berkaitan dengan retakan es. Retakan ini diakibatkan oleh letusan Gunungapi Pinatubo pada tahun 1991. Home range bervariasi secara signifikan dengan musim (Parks et al. 2006).


Gambar 2. (Hijau) Peta distribusi beruang kutub di Hudson bay (Terdapat di http://en.wikipedia.org).

Populasi beruang kutub di Hudson Bay relatif stabil tahun 1993, namun perubahan secara konsisten telah terukur. Berat rata-rata beruang kutub betina secara signifikan lebih rendah pada akhir tahun 1980an dibandingkan dengan awal tahun 1980an. Berat rata-rata difleksikan dengan rendahnya rerata reproduksi dan kelangsungan hidup anak beruang. Populasi beruang kutub betina jika mengalami penurunan karena pemanasan iklim, maka populasinya akan berkurang (Stirling et.al. 1993).

Jumlah populasi beruang kutub yang rendah dikarenakan faktor demografi. Unit-unit demografi lebih mudah menyebabkan penurunan populasi disebabkan oleh ketidakteraturan demografi yaitu peningkatan kesempatan dalam bertahan dan bereproduksi secara acak. Efek Allee dapat juga berperan dalam kepunahan rumah tangga beruang kutub untuk populasi yang kecil. Individu beruang kutub kesulitan unutk menemukan pasangan, sehingga rerata pertumbuhan perkapita mendekati atau di bawah nol. Pengaruh pemanasan iklim global pada es laut akan bervariasi berdasarkan garis lintang dan respon ditunjukkan oleh perbedaan populasi beruang kutub yang tidak akan sama pada periode musim yang sama (Stirling et al. 1993; Taylor et al. 2006).

Pembahasan


Menurunnya populasi beruang kutub akibat berkurangnya ketersediaan makanan

Bulan April-Mei, ketika beruang kutub berbiak, beruang betina dewasa terkonsentrasi di habitat dengan ketersediaan makanan yang tinggi, dan beruang jantan tertarik ke daerah ini karena kehadiran betina. Perkawinan sebagian besar terjadi di es laut terbuka. Kumpulan es kutub mendekati ditribusi maksimum tahunan selama masa berbiak (April – Mei), jadi pemanasan global akan berpengaruh negatif terhadap proses berbiak. Beruang kutub yang kembali ke daratan dalam keadaan miskin, artinya energi input ke tubuh berkurang dan berkaitan dengan energi outputnya (Stirling et.al. 1993).
Energi yang dikeluarkan oleh beruang tidak meningkat, maka energi inputnya akan mengalami pengurangan. Penyimpanan lemak merupakan hal kritik bagi kelangsungan hidup beruang kutub. Jumlah lemak yang tersimpan akan menentukan fitness beruang kutub dan menentukan kelangsungan hidup anaknya. Energi input beruang kutub kemungkinan berkaitan dengan penurunan jumlah anjing laut yang menjadi mangsanya. Penurunan jumlah anjing laut dicirikan dengan perubahan iklim Arctic, termasuk meningkatnya temperatur dan presipitasi (hujan atau pencairan es). Anjing laut memerlukan konsentrasi es tahunan yang tinggi dan cukup salju yang turun untuk menjaga kestabilan kelahiran dalam kumpulan es yang lebih sedikit pemangsaan (Parks et al.2006).

Pemanasan iklim akan mempengaruhi secara signifikan terhadap beruang kutub karena pemanasan ini memiliki efek negatif terhadap spesies mangsa utamanya Phoca hispida. Peningkatan presipitasi kemungkinan menyertai pemanasan global. Jika presipitasi meningkat dalam bentuk hujan salju, maka merupakan keuntungan bagi kelangsungan hidup anjing laut. Hujan yang berlebihan ketika anak anjing laut masih berada di sarang, maka efeknya akan sangat mengejutkan bagi populasi anjing laut. Contohnya pada pertengahan April tahun 1979, hujan lebat (terjadi saat bukan musimnya) di tenggara Pulau Baffin menyebabkan atap sarang menjadi runtuh. Keadaan ini menyebabkan anak anjing laut dapat terlihat oleh beruang kutub dan rubah arctic (Alopex lagopus). Tampaknya pemanasan iklim secara signifikan meningkatkan frekuensi curah hujan saat anak anjing laut berada di sarangnya. Kondisi ini meningkatkan jumlah pemangsaan anjing laut oleh beruang kutub dan rubah salju, sehingga populasinya menurun dan cukup untuk mengakibatkan penurunan populasi beruang kutub (Stirling et al. 1993).

Faktor lain yang menentukan tingkat pemangsaan beruang kutub adalah peluang menemukan anjing laut. Ketika konsentrasi es tinggi, lubang-lubang bernapas banyak dibuat oleh anjing laut, sehingga beruang kutub menunggu di lubang dan mempunyai peluang tinggi untuk menangkap anjing laut. Setidaknya ada tiga cara pemanasan iklim dapat mempengaruhi keberhasilan berburu anjing laut yaitu mengurangi akses terhadap anjing laut, pengaruhnya terhadap anjing laut dimana mempengaruhi kemelimpahan atau aksesibilitas beruang kutub dan pengaruhnya terhadap produktivitas ekosistem marin (Parks et al. 2006; Stirling et al. 1993).

Kondisi musiman es mempengaruhi penggunaan sarang pelindung oleh beruang kutub betina. Sarang untuk berbiak di Arctic (>60oN) berada pada jarak <20>

Beruang Kutub sebagai Indikator Pemanasan Iklim Global

Beruang kutub berada pada tingkat paling atas rantai makanan di Arctic. Saat pemanasan global, diperkirakan pengaruh yang pertama muncul berada pada batas paling selatan wilayah beruang kutub. Pengaruh ini adapt terukur dengan data historis yang lengkap. Data tentang beruang kutub di Hudson Bay telah dikumpulkan selama 20 tahun. Beruang kutub terus dimonitoring di bagian barat pantai Hudson Bay. Kegiatan ini tidak hanya pada terfokus pada beruang kutub, namun pada sistem marin, kondisi es laut, data meteorologi. Monitoring tersebut diharapkan dapat memberikan data akurat tentang hipotesa beruang kutub sebagai indikator pemanasan global. Pemanasan global juga membuat beruang kutub terpaksa merubah habitat asalnya sehingga memiliki cakupan distribusi yang kecil. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pemanasan global keberlangsungan masa depan beruang kutub sangat lemah (Derocher et al. 2004; Stirling et al. 1993).

Kesimpulan

Perubahan iklim global mempengaruhi kondisi es laut di kutub. Es laut bagi beruaang kutub merupakan tempat berburu dan memangsa anjing laut, sebagai habitat untuk mencari pasangan dan mendapatkan keturunan, sebagai sarana mencapai wilayah sarang, dan sebagai tempat untuk melakukan pergerakan jarak jauh. Pemanasan iklim global memiliki efek negatif terhadap populasi beruang kutub (ursus marimutus), hal ini terlihat dari hilangnya spesies mangsa beruang kutub yaitu Phoca hispida. Populasi Phoca hispida akan menurun, karena tidak memiliki es yang cukup sebagai tempat perlindungan anak-anaknya. Populasi Phoca hispida yang menurun tentunya menyebabkan populasi beruang kutub menurun setiap tahunnya dan ini disebabkan oleh pemanasan iklim global.

Daftar Pustaka

Dechorer, A.E., N.J. Lunn., and I. Stirling. 2004. Polar Bears in a Warming Climate. Integr. Comp. Biol. 44:163-176.

Ferguson, S.H., M.K. Taylor., A. Rosing-Asvid., E.W. Born., and F. Messier. 2000. Relationships Between Denning of Polar Bears and Conditions of Sea Ice. Journal of Mammalogy. 1118-1127.

Ferguson, S.H., M.K. Taylor., and F. Messier. 2000. Influence of Sea Ice Dynamics on Habitat Selection by Polar Bears. Ecology. 761-772.

Wiig. 2001. Space-use Strategies of Female Polar Bears in A Dynamic Sea Ice Habitat..fMauritzen, M., A.E. Derocher., and Canadian Journal of Zoology. 1704-1713.

Parks, E.K., A.E. Derocher., and N.J. Lunn. 2006. Seasonal and Annual Movement Patterns of Polar Bears on The Sea Ice of Hudson Bay. Canadian Journal of Zoology. 1281-1294.

Stirling, I., and A.E. Derocher. 1993. Possible Impacts of Climatic Warming on Polar Bears. Arctic. 240-245.

Taylor, M.K., J. Laake., P.D. McLoughlin., H.D. Cluff., and F. Messier. 2006. Demographic Parameters and Harvest-Explicit Population Viability Analysis for Polar Bears in M’Clintock Channel, Nunavut, Canada. Journal of Wildlife Management. 1667-1673


[1] www.goblue.or.id

Minggu, 28 Desember 2008

Tentang situs ini

situs ini di buat untuk saling berbagi